Sabtu, 20 Oktober 2012

KESEJAHTERAAN DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN



KESEJAHTERAAN DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN

Menurut Prof. James Midgley dalam bukunya ‘Social Development’, kondisi ‘sejahtera’ diciptakan atas kompromi tiga elemen. Pertama: sejauhmana masalah-masalah sosial diatasi. Kedua: sejauh mana kebutuhan-kebutuhan dapat dipenuhi. Ketiga: sejauhmana kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup dapat disediakan. Dalam paham lain tentang sosial Rakyat yang sejahtera akan mampu melaksanakan ibadah dengan baik. Rakyat yang sejahtera akan menjadi kaum muzakki, mampu membayar zakat, bersedekah, melakukan kegiatan sosial sampai melaksanakan ibadah haji. Karena telah sejahtera, tentu masyarakat akan mampu meningkatkan kualitas hidupnya, meningkatkan pengetahuan serta menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi dan lebih baik.
AL-Qur’an menjelaskan dalam surat Hud: 48; Hijr: 45-46; Yunus: 10; Al-Qolam: 43 (sejahtera)
Orang yang bahagia ialah yang dijauhkan dari fitnah-fitnah dan orang yang bila terkena ujian dan cobaan dia bersabar. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Frankl (1985) makna hidup merupakan suatu hal yang sangat personal tergantung dari pribadi dan keunikan individu tersebut dalam caranya untuk memaknai hidupnya. Krueger (1979) berpendapat bahwa makna hidup adalah manner’, suatu cara atau gaya yang dia gunakan untuk ‘mengada,’ untuk mengahadapi dunia; untuk eksis dan cara pendekatan individu terhadap kehidupan sendiri itupun unik, sebab sepanjang hidupnya manusia menyimpan berbagai pengalamannya hingga ia meninggal.
Termasuk dalam semua konsep agama pun masalah kesejahteraan dalam hidup pun dijamin dan di jadikan sebagai fondasi akan agama tersebut. Dengan berbagai konsep yang bersifat agamis atau religiusnya. Sehingga tidak sedikit fenomena-fenomena yang secara sosiologis masyarakat yang pindah agama (Konversi Agama) karena tidak merasakan kedamaian atau kesejahteraan dalam hidupnya.
Termasuk juga dalam Islam. Yang dimana Islam itu bukan agama namun Ad-Diin. Kesejahteraan dalam hidup serta kehidupan dari setiap pemeluknya menjadi sebuah keharusan yang dijamin semuanya oleh Allah swt. Namun jika kita lihat sekarang muslim sekarang sepertinya tidak nyaman dengan keislamannya, APA YANG SALAH??? Islam tu damai dan mendamaikan. Tapi dengan melihat sekarang apa yang terjadi. Islam jadi sorotan masa karena dianggap menjadi seorang teroris. APA YANG SALAH??? Muslim dimarjinalkan, dimana Islam yang katanya Yu’la Wala Yu’la ‘alaih (Islam itu diatas segala-galanya), Apa yang salah???!!!!

Berdirinya Negara Israel modern 1948 M



 
A.    SEJARAH BERDIRINYA NEGARA ISRAEL
Sebagaimana yang telah di ungkapkan di atas yaitu berdirinya Negara Israel Modern, mereka berpegang kepada klaim-klaim mereka untuk mendirikan Negara di Palestina atas tiga sumber utama yaitu: Warisan perjanjian lama, Deklarasi Balfour 1917, dan pembagian palestina menjadi Negara Arab dan Negara Yahudi yang dirokumendasikan oleh majelis umum PBB 1947 M. ketiga klaim ini sebagai modal dasar bagi mendirikan Negara Israel di palestina.
Bangsa Yahudi yang tinggal diperantauan, terutama di Eropa banyak dibutuhkan untuk menjadi kuli bangunan dan memajukan perekonomian, yang kesempatan itu menyebabkan mereka menjadi kelas menengah di Eropa, tetapi mereka tetap menjadi orang asing di Eropa, tahun 500 M, mereka diintimidasi di Spanyol, tahun 1300 M diusir dari Inggris, tahun 1400 M diusir dari Perancis, tahun 1500 M diusir dari Spanyol.
Pada abad inilah Yahudi memperluas petualangannya sampai ke Eropa Timur, Rusia dan Amerika Selatan. Selama satu abad, 1600 M sampai 1700 M, kaum Yahudi berhasil menguasai pasar dan perekonomian Eropa, dan bahkan mereka melibatkan diri dalam pendalaman ilmu pengetahuan modern. Akhirnya mereka mulai melihat titik terang yang akan menyinari jalan ketika mereka hendak melangkah untuk kembali ke Palestina.
B.     PERJALANAN SEJARAH BANGSA ISRAEL
Max I. Dimont, sejarawan Yahudi, dalam bukunya “Jews, God, and History”, menulis, “Ketika, akhirnya, pada abad XII SM, bangsa Yahudi menetap di sebuah negara yang dapat mereka sebut sebagai milik mereka sendiri. Mereka memilih sejalur wilayah yang merupakan koridor bagi tentara imperium-imperium yang sedang berperang. Bangsa Yahudi harus membayar pilihan ini dengan terbantai di medan pertempuran, dijual sebagai budak, atau dideportasi ke negeri-negeri asing. Tapi mereka terus datang ke tempat tua tersebut, membangun jalur pemukiman kecil baru yang secara berganti-ganti disebut sebagai Kan’an, Palestina, Israel, Judah, Judea dan sekarang Israel lagi”.
Sebagai seorang ilmuwan Yahudi dan juga mayoritas kaum Yahudi lainnya, Max I. Dimont meyakini secara aqidah bahwa Palestina adalah milik bangsa Yahudi karena nenek moyang mereka pernah mendirikan sebuah negara disana. Kawasan itu merupakan kawasan strategis yang menghubungkan antara Asia, Afrika dengan Eropa. Dan dengan doktrin aqidah yang demikian kental diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, bangsa Yahudi tidak mengenal putus asa untuk kembali ke Palestina. Kaum Yahudi sekarang secara umum, terdiri dari dua kategaori besar. Pertama, disebut bangsa Sam (Semitic), mengaku sebagai keturunan nabi Ibrahim as, lazim juga disebut bangsa Kan’an. Yang kedua adalah yang bukan Sam, seperti yang berkulit hitam dan sebagainya, bukanlah keturunan langsung dengan nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim as berasal dari Ur, Irak selatan yang kemudian hijrah ke Kan’an Palestina sekitar tahun 2000 SM. Disitulah lahir nabi Ishaq as, kemudian berputera nabi Ya’qub as, kemudian berputera nabi Yusuf as, Kan’an ketika itu terhitung sebuah desa, Al-Qur’an menyebutnya Baduwi (QS 12:100).
Setelah nabi Yusuf as menjadi pembesar di Mesir, nabi Yaqub as beserta seluruh keluarganya hijrah ke Mesir. Di Mesir mereka mengalami kemajuan dan perkembangan baik dari segi jumlah orang maupun kekayaan dan kedudukan. Setelah nabi Yusuf as meninggal dunia kondisi sosial mereka yang semula terhormat mulai bergeser karena mereka meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar serta jauh dari syariat nabi Yusuf as.
Kerajaan Mesir yang tadinya mereka kuasai diambil alih kembali oleh penduduk asli Mesir dengan menghidupkan kembali Pharaoisme. Sejak itulah bangsa Yahudi mengalami nestapa. Mereka diperbudak berabad-abad lamanya oleh bangsa Hykhos, nama suku dari Asia dan kemudian menjadi bangsa Mesir sendiri.
Sesuai dengan kehendak Allah swt, kemudian nabi Musa as lahir. Dia keturunan bani Israel dari suku Levi, beliau diselamatkan Allah swt dari petaka Fir’aun. Bahkan menjadi putra angkat sampai menginjak dewasa. Karena membunuh bangsa Mesir untuk membela orang Yahudi, nabi Musa as melarikan diri ke Madyan dan menikah dengan seorang puteri nabi Syu’aib as.
Setelah selama sepuluh tahun bersama keluarga besar nabi Syu’aib as, Allah swt memerintahkannya kembali ke Mesir, sebagai seorang rasul yang diutus kepada bani Israel. Nabi Musa as pun berdakwah menyebarkan risalahnya, sampai beliau bersama sejumlah pengikutnya harus hijrah kembali ke Palestina karena Fir’aun berkehendak membersihkan mereka dari bumi Mesir.
Didalam Al-Qur’an 5:21-26, perintah menuju Palestina memang datang dari Allah swt, tapi mereka enggan masuk ke Palestina meskipun dijamin kemenangan oleh Allah swt. Bahkan berani berkata tidak sopan kepada nabi Musa as. Maka Allah swt mengharamkan bumi Palestian selama empat puluh tahun dan mereka terlunta-lunta di padang Tiih. Fakta sejarah menunjukkan bahwa hampir dua ratus tahun bangsa Yahudi terpontang-panting dikawsan tidak bertuan (padang Tiih) dan sekitarnya, sampai nabi Daud as dan nabi Sulaiman as berhasil mendirikan kerajaan di Palestina, tahun 1040-970 SM. Kerajaan nabi Daud as yang kemudian dilanjutkan oleh nabi Sulaiman as itu hanya utuh selama beliau masih hidup. Setelah nabi Sulaiman as wafat kerajaan itu pecah menjadi dua yaitu Kerajaan Yahuda dan Kerajaan Israel.
Pada tahun 721 SM, kerajaan Israel ditaklukkan oleh Tiglath-Pileser III, raja Assyyira. Pada tahun 586 SM raja Nebuchadnezzar menaklukkan kerajaan Yahuda. Seluruh bangsa Yahudi digiring ke Babylonia untuk menjadi budak. Di Babylonia itulah para pemuka Yahudi menanamkan doktrin‘janji kembali ke kampung halaman’ kepada para pengikutnya. Kemudian pada tahun 550 SM hampir seluruh kawasan Palestina diintegrasikan kedalam kekuasaan Persia.
Ketika Alexander The Greath menguasai Palestina pada tahun 334 SM. Alexander membawa bangsa Yahudi ke Yunani. Dari sini mereka kemudian menyebar ke berbagai kawasan di Eropa. Kemudian sejak tahun 160 SM diintegrasikan kedalam kekaisaran Romawi. Pengungsian besar-besaran bangsa Yahudi terjadi lagi pada tahun 66 M sampai tahun 70 M. Setelah pemberontakan mereka terhadap penguasa Romawi gagal dan Gubernur Romawi pada waktu itu, Titus membantai puluhan ribu orang Yahudi untuk memadamkan pemberontakan.
Demikianlah seterusnya sampai kedatangan Islam pertama kali dipimpin oleh Umar bin Khattab R.A pada tahun 637 M, mengikuti kemenangan Khalid bin Walid terhadap Romawi Binzantium di Damascus pada tahun 635 M, Umar bin Khattab R.A kemudian mewaqafkan Yerusalem dan tanah Palestina kepada umat Islam seluruh dunia.




2.      KRONOLOGIS SINGKAT SEJARAH YAHUDI
Secara keseluruhannya kronologis kerajaan Yahudi menjalani waktu untuk menguasai palestina amat lama, dan daripada sumber dan sejarah kekuasaan yahudi sejak tahun 1020 M sampai dengan tahun 164 SM dapat kita runtu seperti berikut:
Pertama, yahudi memulai memiliki pemerintahan semasa musa dan harun /9 wilayah kekuasaan masih d wilayah Sinai kemudian ke Mesir dan kembali ke Sinai lagi , kedua, setelah itu kendali pemerintah dipegang oleh Nabi Yasuya (masih di sekitar Sinai),  Ketiga, Raja Thaulut (mulai memasuki tanah Kana’an tanah suci yang dijanjikan oleh Tuhan di Yerusalem, palestina), keempat, tak lama kemudian kekuasaan dipegang oleh nabi Daud, ia seorang Raja sekaligus nabi setelah mengalahkn Jalut. Pada masa Daud, merupakan puncak awal kegemilangan Bani Israel dalam sejarah peradaban bangsa yahudi. Akan tetapi, karena kesombongan yahudi dan pembangkangan terhadap ajaran Taurat maka bani Israel dikutuk langsung oleh kemarahan lidah Daud sendiri, kelima,  puncak kedua kejayaan yahudi pada masa Nabi Sulaiman.[1]
Keenam, setalah Sulaiman. Bangsa Israel terbagi kepada dua bagian kecil. ‘kerajaan Israel dan kerajaan Yehuda”. Kedua kerajaan ini saling berperang merbutkan kekuasaan, yang akhirnya bani Israel lenyap.  Ketujuh, ketika muncul gerakan atas nama agama, maka dipenghujung tahun 167 SM dan memasuki tahun166 SM, terjadi pemberontakan Yahudi untuk mendirikan Negara. Kelapan, pada tahun 164 SM Hebrew Maccabean behasil mengembalikan Negara yahudi dari tangan kekuasan Yunani, dalam kitab perjanian lama,”Lalu diberikan kepadanya  kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai Raja, maka orang-orang dari segala bangsa, dan suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya.”[2]
Kesembilan, menjelang tahun162 SM terjadi pembagian gerakan kemerdekaan dibawah “Al-Usmuuniiyiin” (Les Asmoneens) yang terambil nama Asmon yang merupakan cucu dari Mattathius, yang ada kaitan  dengan Hebrew Maccabean, inilah kelompk-kelompok tersebut:
a)      Kelompok para khakhomat- orang-orang yang berani berperang.
b)      Kelompok Hiliniyin- aliran filsafat yunani ang berkembang di sekitar mediterania.
c)      Kelompok Yahudi Hebrew Maccabean- terus-menerus berjuag lewat gerakan politik, untuk mendirikan Negara Yahudi.
Kesepuluh, pada tahun 142 SM, bangsa Yahudi menghimpun kekuatan, memberontak, dna berhasil mendirikan kerajaan Yudea Baru. Kerajaan yudea Baru tidak berlangsug lama karena ketamakan bangsa Yahudi yang ingin berusaha merebut wilayah kerajaan lain, sehingga akhirnya mereka sendiri yang hancur. Sampai tahun 135 SM, mereka tetap berada dibawah pengaruh dan kekuasaan Negara asing silih berganti. Akidah dan upacara keagamaannya kai rusak karena pengaruh penjajah.
Kesebelas, sejarah yahudi yang lebih parah lagi jika disbanding dengan masa-masa yang lebih awal dari perjalanan sejarah bangsa yahudi adalah ketika pengahancuran kota Yerusalem. Pada tahun sekitar 26 abad bangsa yahudi mengelana di penjuru dunia” Dispora “. Ada semacam prediksi, akan terjadi apa jika alam raya ini menginjak di abad ke-26 atau pada tahun 2534? Karena pada waktu tu merupakan ulang Tahun yahudi dalam masa-masa diaspora.
Keduabelas ,kembali ke sekitar yerusalem. Di mana wilayah ini dikuasai oleh dua kekuasaan yaitu Yunani dan Romawi. Kedua kekuasaan ini sangat mempengaruhi dalam bidang akal budi dan filsafat, sehingga pada masa pengaruh kekuasaan Yunani menimbulkan filsafat Hellenistik, yang sudah disebutkan di atas. Akan tetapi berbeda dengan Romawi yang lebih bersemangat menguasai secara fisik dan materil dalam memancapkan kekuasaannya. Romawi baru mampu bertahan  sampai abad ke 7 M. [3]
3.      REKOMENDASI PBB 1947 M
            Rekomendasi ini adalah klaim ketga bagi Yahudi untuk mencaai Negara merdeka yahudi. Diantara bangsa-bangsa yang mengalah pada tekanan AS, adalah prancis, Ethiopia, Haitti, Leberia, Luksemburg, Paraguay, dan Filipina.
            Renca pembagian yang dinamakan resolusi 181, ang di mana tu membagi palestina antara Negara-negara arab, Yahudi yang merdeka dan Rezim Internsional istimewa untuk  kota Yerusalem. Tetapi jika kita lihat secara kenyataan hari ini walaupun minoritas penduduknya tapi, memiliki kakuatan dan bahkan menguasai dunia dalam berbagai bidang. Padahal Yahudi dalam panggung sejarah peradaban umat manusia tergolong pendatang baru yang terlambat.[4]









[1] Prof. Dr. Nanat Fatah Nasir, MS. Dan Mulyana Lc. , M.Ag , Yahudi versus Islam hlm 109
[2] Ibid. hlm. 109


[3] Prof. Dr. Nanat Fatah Nasir, MS. Dan Mulyana Lc. , M.Ag , Yahudi versus Islam hlm. 111

[4] Prof. Dr. Nanat Fatah Nasir, MS. Dan Mulyana Lc. , M.Ag , Yahudi versus Islam hlm. 114

oksidentalisme


KATA PENGANTAR
Pertama-tama kami panjatkan Puji serta Syukur kehadirat Allah SWT. Dengan qodrat dan Irodat-Nya kami pun bisa mengerjakan dan menyusun makalah ini tanpa hambatan apapun. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. kepada keluarganya, shahabat-shahabatnya, thabi’in, thabi’it-thabitnya hingga pada kita semua yang sellau mengharapkan syafaatnya. aamiin
Dalam makalah ini penyusun mencoba memaparkan sedikit banyaknya mengenai Pemikiran Hassan Hanafi yaitu Oksidentalisme di dalam ranah Filsafat Islam Kontemporer.
Kami ucapkan terimakasih kepada  kedua orang tua kami yang selalu mendo’akan kami, termasuk pada dosen kami Bapak Nursomad Kamba, M. Ag, yang sudah mengajarkan kami tentang makalah ini. tidak lupa kepada rekan-rekan seperjuangan yang sudah berkenan membantu kami.

Bandung, 12 Oktober 2012

Penyusun


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................... 1
DAFTAR ISI................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 3
1.1. Latar Belakang.......................................................................... 3
1.2. Rumusan Masalah.................................................................... 3
1.3. Tujuan Pembahsana Masalah.................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN............................................................................... 4
2.1.     Biografi Hassan Hanafi........................................................ 4
2.2.     Ontologi Oksidentalisme...................................................... 4
2.3.     Epistemologi Oksidentalisme............................................... 7
2.4.      Aksiologi Oksidentalisme.................................................... 8
BAB III PENUTUP................................................................................... 10
            3.1.       Kesimpulan.......................................................................  10
DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 11



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.      Latar Belakang
Filosof di dunia ini banyak sekali, dengan berbagai ide atau agagasannya mereka mencoba menggali hakikat sesuatu dengan konsep dasar ontologi, epistemologi dan aksiologi yang berbeda-beda. Mereka saling mengkritik satu sama lainnya, untuk mendapatkan hakikat yang lebih bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat. Mulai dari filosof yang berkembang di Barat hingga Timur. Walau objek kajian mereka sama namun dalam hasilnya pasti ada perbedaan walau kadang perbedaan itu tidak signifikan. Ketika muncul Orientalisme sebagai lawannya muncul pulalah Oksidentalisme. Dimana paham ini dicetuskan oleh Hassan Hanafi.
1.2.      Rumusan Masalah
a.       Siapakah Hassan Hanafi itu?
b.      Apa Oksidentalisme itu?
c.       Bagaimana Oksidentalisme itu?
d.      Untuk apa Oksidentalisme itu?
1.3.      Tujuan Pembahasan Masalah
a.       Untuk mengetahui Siapakah Hassan Hanafi itu
b.      Untuk mengetahui Siapakah Apa Oksidentalisme itu
c.       Untuk mengetahui Siapakah Bagaimana Oksidentalisme itu
d.      Untuk mengetahui Siapakah Untuk apa Oksidentalisme itu
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.      Bografi Hassan Hanafi
Hassan Hanafi lahir pada 13 Februari 1935 di Kairo, Dia merupakan seorang pemikir Hukum Islam dan professor filsafat terkemuka di Mesir yang menguasai tiga bahasa sekaligus: Arab, Prancis, dan Inggris. Sehingga buku dan karya ilmiahnya pun menggunakan tiga bahasa tersebut. Dia memperoleh gelar sarjana muda dalam bidang filsafat dari University of Cairo 1956. Tahun 1966 Dia mengntongi gelar Doktor dari La Sorbonne Prancis. Selama studi di Prancis Dia menjadi guru bahasa Arab di Ecole des Langues Orientales, Paris. Setelah selesai studi di Prancis. Dia kembali ke Mesir untuk menjabat staf pengajar diUniversitas Kairo jurusan Filsafat, untuk kuliah Pemikiran Kristen Abad Pertengahan dan Filsafat Islam. Reputasi internasionalnya sebagai pemikir muslim terkemuka mengantarkannya pada beberapa jabatan Guru Besar luar biasa (Visiting prifesor) di berbagai perguruan tinggi asing, seperti Belgia (1970), AS (1971-1975), Kuwait (1979), Maroko (1982-1984), Jepang (1984-1985), dan Uni Emirat Arab (1985).[1]
2.2.      Ontologi Oksidentalisme
Hassan Hanafi pada akhir dekade abad abad ke-20, muncul sebagai ikon dari oksidentalisme (‘ilm al-istighrab), karena perannya menyistemasikan oksidentalisme dan menjadikannya sebagai proyek peradaban yang terencana. Pemikiran tersebut menjadi genre (ciri) baru dalam pemikiran filsafat Islam kontemporer. Kajian tersebut dituangkan dalam salah satu karyanya, Muqaddimah fi ‘Ilm al-istighrab tahun 1991. Buku ini, memaparkan tentang oksidentalisme yang dimana merupakan diskursus tandingan terhadap orientalisme. Oksidentalisme disini dimaksudkan sebagai suatu kajian otoritatif (penguasaan) yang memerlakukan Barat sebagai objek pengetahuan, memelajari perkembangan dan strukturnya, dan pada akhirnya menghilangkan dominasi Barat atas kaum Muslim.[2]
Gagasan Hanafi tentang oksidentalisme dimana sebagai tandingan orientalisme, yang merupakan filsafat klasik sebagai hasil dan sekaligus semakin mendorong kolonialisme atas dunia Timur oleh Barat, sebenarnya paham atau gagasan ini sudah dikemukakan sejak tahun 1981, yang dituangkan dalam jurnalnya (terbit pertama dan terakhir) al-Yasar al-Islam; Kitabat fi al-Islamiyyah. Namun, rumusan yang terperinci dan sistematisnya baru tertuang dalam buku Muqaddimah-nya tersebut, dengan ketebalan lebih dari 800 halaman.[3]
            Perlu kita ketahui bahwasannya paham oksidentalisme ini merupakan bagian dari proyek besar dan ambisi raksasa keintelektualan Hanafi, dikenal dengan al-turats wa al-tajdid (tradisi dan modernisasi). Al-turats (tradisi) dipresentasikan sebagai segala bentuk pemikiran umat Islam yang berasal dari masa lalu kedalam peradaban kontemporer. Sedangkan, al-tajdid (modernisasi) merupakan representasi tradisi agar sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan zaman. Dimana proyek ini sudah dituliskan secara teoritis sejak tahun 1980. Maksud dari proyek ini adalah sebagai sebuah rancangan reformasi agama yang tidak saja berfungsi sebagai kerangka kerja dalam menghadapi tantangan intlektual Barat, tetapi juga dalam rangka rekontruksi pemikiran keagamaan Islam pada umumnya. Proyek ini berdasarkan pada tiga agenda besar yang saling mengait secara dialektis. Tiga agenda besar itu adalah:[4]
1.      Melakukan rekontruksi tradisi Islam dengan interpretasi kritis dan kritik sejarah yang tercermin dalam agenda “apresiasi khazanah klasik” (mawaqifuna min al-qadim);
2.      Menetapkan kembali batas-batas kultural Barat melalui pendekatan kritis yang mencerminkan “sikap kita terhadap peradaban Barat” (mawaqifuna min al-gharib);
3.       Upaya membangun kembali sebuah hermeneutika pembebasan Al-Qur’an yang baru, yang mencakup dimensi kebudayaan dari agama dalam skala global, agenda diman memosisikan Islam sebagai fondasi ideologis bagi kemanusiaan modern. Agenda ini mencerminkan “sikap kita terhadap realita” (mawaqifuna min al-waqi).
Ketiga agenda besar diatas menurut  Hanafi dianggap merefleksikan dialektika tringular yang membentuk “ego” (al-ana), yang berhubungan dengan “ego lain” (al-akhar), tradisi klasik (al-turats al-qadim) atau dalam realitas kontemporer (al-waqi’ al-mubasyir). Ketiga agenda besar diatas dalam proyek sistematisasi dan teoritisasinya akan melibatkan 13 bagian besar , yaitu 7 agenda pertama (dalam buku Min al-‘Aqidah ila al-Tsaurah: Muhawalah li I’adah ‘Ilm Ushul al-Din), 3 agenda kedua (dalam bukunya Muqaddimah), dan 3 agenda ketiga (metodologi tafsir al-manahij).[5]
2.3.      Epistemologi Oksidentalisme
Secara hakikat atau ontologi oksidentalisme ini merupakan epistemologi akan agenda Hanafi yang kedua, tentang sikap kita terhadap peradaban Barat, dimana termaktub dalam kitab Muqaddimah. Namun, perlu kita ingat bahwa semua isme (pemikiran) pasti adanya epistemologinya. Adapun metode atau cara untuk memahami oksidentalisme ini adalah sebagai berikut:[6]
1.      Membebaskan diri dari pengaruh pihak lain sehingga lahir kesetaraan antara dunia Timur dengan Barat.
2.      Pembacaan ulang atas tradisi klasik sekaligus tradisi Barat dimaksudkan untuk memberikan penjelasan betapa oksidentalisme berbeda secara signifikan dengan orientalisme. Oksidentalisme tidak diarahkan menjadi kekuatan imperialisme sebuah tradisi yang dibenamkan ke dalam kesadaran tradisi lain, sebagaimana yang telah digunakan secara manipulatif oleh kaum orientalis melalui kolonialismenya. Prinsip metodologis yang sistemik ini dimaksudkan agar arah transformasi sosial masyarakat menemukan landasan pijaknya yang berakar dan melembaga dalam tradisi, tetapi tetap diorientasikan pada progresivitas melaui pembacaan secara kritis sumber-sumber kemajuan peradaban Barat.
3.      Epistemologi Relasional untuk pembebasan diri dari berbagai bentuk dominasi sehingga terjalin hubungan dialektis antara dunia Timur sebagai al-ana dengan dunia Barat sebagai al-akhar. Menolak segala macam dominasi yang menyebut bahwa Barat adalah “mitos”, atau “pusat dunia” sekaligus “pusat pengetahuan”. Dalam setiap peradaban selalu ada ego dan the other. Tidak ada kekuatan tunggal yang bersifat monolitik sebagai klaim kebenaran rasional universal. Untuk meruntuhkan superioritas tersebut harus dijalankan ide demitologisasi Barat.
2.4.      Aksiologi Oksidentalisme
Dengan paham ini, jika telah menjadi mainstream  di kalangan muslim, Hanafi berharap bisa mencapai nilai atau target sebagai berikut:[7]
1.      Kontrol dan pembendungan atas kesadaran Eropa dari awal sampai akhir;
2.      Memelajari kesadaran Eropa dalam kapasitas sebagai sejarah, bukan sebagai kesadaran yang berada di luar sejarah (kharij al-tarikh);
3.      Mengembalikan Barat ke batas alamiah, mengakhiri perang budaya, menghentikan ekspansi tanpa batas, mengembalikan filsafat Barat pada wilayah kelahirannya, sehingga tampak jelas partikulasinya;
4.      Menghapuskan mitos “kebudayaan komsmoplit”, menemukan spesifikasi bangsa-bangsa dunia dengan tipologi peradaban masing-masing;
5.      Membuka jalan bagi terciptanya inovasi bangsa non-Barat, dan membebaskannya dari akal Barat yang menghalangi nurani;
6.      Menghapus rasa rendah diri pada bangsa non-Barat;
7.      Melakukan penulisan ulang sejarah agar semaksimal mungkin dapat mewujudkan persamaan bagi seluruh bangsa;
8.      Permulaan filsafat sejarah baru yang dimulai dari Timur; ditemukan siklus peradaban dan hukum evolusi secara komprehensif;
9.      Mengakhiri orientalisme, menempatkan Timur sebagai subjek;
10.  Menciptakan ilmu oksidentalisme sebagai ilmu pengetahuan yang akurat;
11.  Membentuk peneliti-peneliti muslim yang memelajari peradabannya dari perspektifnya sendiri, dan mengkaji peradaban lain secara netral;
12.  Dimulainya generasi pemikir baru yang dapat disebut “filosof”, pascagenerasi pelopor di era kebangkitan;
13.  Lahirnya generasi yang mampu melepaskan umat Islam dari belenggu penjajahan budaya dan ilmu pengetahuan serta teknologi;
14.  Dengan oksidentalisme, manusia akan mengalami era baru dimana tidak ada lagi penyakit realisme terpendam.


BAB III
PENUTUP

3.1.            Kesimpulan
a.       Hassan Hanafi lahir pada 13 Februari 1935 di Kairo, Dia merupakan seorang pemikir Hukum Islam dan professor filsafat terkemuka di Mesir yang menguasai tiga bahasa sekaligus: Arab, Prancis, dan Inggris. Sehingga buku dan karya ilmiahnya pun menggunakan tiga bahasa tersebut.
b.      Ontologi Oksidentalisme disini dimaksudkan sebagai suatu kajian otoritatif (penguasaan) yang memerlakukan Barat sebagai objek pengetahuan, memelajari perkembangan dan strukturnya, dan pada akhirnya menghilangkan dominasi Barat atas kaum Muslim.
c.       Epistemologi Oksidentalisme adalah: Membebaskan diri dari pengaruh pihak lain, Pembacaan ulang atas tradisi klasik sekaligus tradisi Barat, dan Epistemologi Relasional.
d.      Aksiologi Oksidentalisme adalah: Kontrol dan pembendungan atas kesadaran Eropa dari awal sampai akhir; Menghapus rasa rendah diri pada bangsa non-Barat; dll



DAFTAR PUSTAKA

K. H. M. Solikhin. 2008. Filsafat dan Metafisika dalam Islam. Yogyakarta: Penerbit Narasi. cet. 1

Laftlaft Etikazisme , Oksidentalisme Hasan Hanafi, diunduh dari: http:// Laftlaft Etikazisme  Oksidentalisme Hasan Hanafi. htm, tanggal: 12 Oktober 2012, pukul. 17.00 WIB











[1] K. H. M. Solikhin, Filsafat dan Metafisika dalam Islam, (Yogyakarta: Penerbit Narasi, 2008), cet. 1, hlm. 255
[2] Ibid., hlm. 254-255
[3] Ibid., hlm. 255
[4] Ibid., hlm. 257-258
[5] Ibid., hlm. 258
[6] Laftlaft Etikazisme , Oksidentalisme Hasan Hanafi, diunduh dari: http:// Laftlaft Etikazisme  Oksidentalisme Hasan Hanafi. htm, tanggal: 12 Oktober 2012, pukul. 17.00 WIB
[7] Ibid., hlm. 261